BAB 12
Lingkungan Pemasaran
1.
PENDAHULUAN :
NILAI
PELANGGAN
Pengertian
Kotler dan Keller (2009: 14)
menyatakan bahwa nilai pelanggan merupakan kombinasi kualitas, pelayanan, harga
dari suatu penawaran produk . Nilai terhantar pada pelanggan adalah selisih
antara jumlah nilai bagi pelanggan dan jumlah biaya dari pelanggan, dan jumlah
nilai bagi pelanggan adalah sekelompok keuntungan yang diharapkan pelanggan
dari barang atau jasa tertentu.
Menurut Best dalam (Sumarwan, dkk;
2010: 30), nilai pelanggan merupakan benefit yang diperoleh pelanggan
dikurangi biaya pembelian. Berdasarkan konsep ini, nilai pelanggan bersumber
dari benefit ekonomi, benefit pelanggan, dan benefit emosional.
Benefit ekonomi bersumber dari keunggulan harga dan biaya selain harga
pembelian seperti biaya akuisisi, penggunaan kepemilikan, pemeliharaan, dan
perbaikan serta biaya pembuangan. Benefit pelanggan bersumber dari
penampilan produk, layanan dan reputasi. Benefit emosional adalah
keunggulan produk dalam memenuhi kebutuhan emosional pelanggan yang terkait
dengan kebutuhan psikologis, tipe – tipe kepribadian pelanggan, dan nilai
personal pelanggan.
Tjiptono (2005:296) juga
mendefenisikan nilai pelanggan adalah ikatan emosional yang terjalin antara
pelanggan dan produsen setelah pelanggan menggunakan produk dan jasa dari
perusahaan dan mendapati bahwa produk atau jasa tersebut memberi nilai tambah.
Nilai
pelanggan atau customer perceived value yaitu persepsi pelanggan terhadap nilai
dimana perusahaan harus mempertimbangkan nilai dalam mengembangkan produk dan
jasanya sehingga sesuai dengan apa yang diharapkan pelanggan (Vanessa,
2007:65).
Monroe dalam
Vanessa (2007:65) menyatakan bahwa nilai pelanggan adalah rasio antara
keuntungan atau manfaat yang dirasakan dengan pengorbanan yang dikeluarkan.
Dimana keuntungan yang dirasakan adalah kombinasi dari atribut fisik, atribut
jasa dan teknik pendukung dalam pemanfaatan produk. Pengorbanan yang
dikeluarkan adalah total biaya yang dikeluarkan konsumen termasuk biaya
pembelian dan biaya tambahan (seperti biaya pemesanan, transportasi, instalasi,
penanganan pesanan) serta biaya diluar pembelian (mengganti kerusakan, resiko
kegagalan atau pelayanan yang buruk).
Buchari
(2007:295) menyatakan bahwa nilai pelanggan ialah selisih antara total nilai tambah
yang diperoleh konsumen dibandingkan dengan total biaya yang dikeluarkan.
Menurut
Hanny dalam Vanessa (2007:65) Nilai adalah harga murah, apapun yang diinginkan
dari suatu produk, kualitas yang diterima konsumen atas biaya yang telah
dikeluarkan dan apa yang diperoleh konsumen dari yang telah mereka berikan.
Nilai
pelanggan adalah preferensi yang dirasakan oleh pelanggan atas atribut produk,
kinerja, dan konsekuensi yang timbul dari pemakaian fasilitas untuk memenuhi
sasaran dan maksudnya (A. B. Susanto dalam Vanessa, 2007:66).
Menurut Gale
(1994) dalam Alida (2007:74) nilai pelanggan adalah persepsi konsumen terhadap
nilai atas kualitas yang ditawarkan relatif lebih tinggi dari pesaing akan
mempengaruhi tingkat loyalitas konsumen, semakin tinggi persepsi nilai yang
dirasakan oleh pelanggan, maka semakin besar kemungkinan terjadinya hubungan
(transaksi). Dan hubungan yang diinginkan adalah hubungan yang bersifat jangka
panjang, sebab usaha dan biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan diyakini akan
jauh lebih besar apabila harus menarik pelanggan baru atau pelanggan yang sudah
meninggalkan perusahaan, daripada mempertahankannya.
Nilai pelanggan atau nilai customer atau customer
value adalah selisih antara manfaat yang diperoleh customer dari
suatu produk atau jasa dengan upaya dan pengorbanan yang dilakukannya untuk
mendapatkan dan menggunakan produk itu.
Suatu produk atau jasa yang dibeli customer dari perusahaan semakin
memuaskan jika customer itu mendapatkan nilai
(value) yang tinggi. Bagi customer, nilai (value) atau nilai
produk atau jasa yang ditawarkan suatu perusahaan memiliki dua dimensi:
- Kinerja atau fitur
produk dibandingkan dengan produk sejenis yang ditawarkan pesaing
perusahaan.
- Harga atau cost.
Dengan semakin banyaknya produk atau jasa sejenis yang bersaing di pasar, cost
atau pengorbanan memiliki arti yang lebih luas, tidak hanya sebatas harga
beli suatu produk. Sebagai contoh, kemudahan untuk mengoperasikan,
ketersedian suku cadang, layanan pascapembelian, dan biaya pemeliharaan,
merupakan unsur-unsur pengorbanan yang diperhitungkan oleh customer,
selain harga beli produk.
Dengan kata lain, customer berada dalam posisi "bisa memilih". Istilah customer value sangat populer dalam dunia bisnis masa kini
yang sangat kompetitif. Customer value semakin penting untuk
dipertimbangkan oleh perusahaan dan menjadi bagian integral strategi
perusahaan, khusurnya dalam strategi pemasaran
produknya.Secara historis, dalam ilmu ekonomi konsep ini dikenal sebagai utility barang dan jasa.
2.
Teori-Teori mengenai pengertian Bisnis:
Dimensi
Nilai Pelanggan
Menurut Sweeney and Soutar dalam Tjiptono (2005:298), dimensi nilai terdiri dari 4 yaitu :
1. Emotional value, utilitas yang berasal dari perasaaan atau afektif/emosi positif yang ditimbulkan dari mengkonsumsi produk
2. Social value, utilitas yang didapat dari kemamapuan produk untuk meningkatkan konsep diri social konsumen.
3. Quality/performance value, utilitas yang didapatkan dari produk karena reduksi biaya jangka pendek dan panjang panjang.
4. Price/value of maney, utilitas yang diperoleh dari persepsi terhadap kinerja yang yang diharapkan dari produk atau jasa.
Penciptaan
Nilai Pelanggan
Menurut Best dalam Sumarwan, dkk
(2010: 33), bahwa nilai pelanggan dapat diciptakan melalui beberapa pendekatan,
yaitu:
1.Biaya daur hidup dan penciptaan
nilai
Bagi
nilai ekonomi superior, pelanggan harus memperoleh keuntungan ekonomi diatas
daur hidup pengguna. Terdapat enam sumber utama biaya siklus hidup yang
menciptakan nilai yaitu harga yang dibayarkan, biaya penggunaan, biaya
pemeliharaan, biaya kepemilikan, serta biaya pembuangan.
2. Harga kinerja dan penciptaan
nilai
Walaupun
nilai ekonomis menyediakan dasar yang kuat untuk menciptakan nilai pelanggan
berdasarkan biaya tetapi terdapat aspek-aspek kinerja produk yang lebih sulit
dihitung dalam pembiayaan total pembelian. Kinerja dapat juga meliputi
fitur-fitur dan fungsi-fungsi produk yang tidak menghemat uang tetapi
meningkatkan pemakaian sehingga menciptakan nilai pelanggan.
3. Benefit yang dipersepsikan
dan penciptaan nilai
Nilai
relatif kinerja harga dan nilai ekonomi memberikan ukuran yang terbaik mengenai
nilai pelanggan tetapi evaluasi pelanggan terhadap produk sering melampaui
ukuran kinerja harga dan ekonomis. Persepsi pelanggan tentang kualitas layanan,
reputasi merek, dan biaya-biaya lain selain harga juga mempengaruhi nilai
pelanggan. Setelah diketahui persepsi manfaat dan persepsi biaya secara
keseluruhan maka selisihnya merupakan nilai pelanggan yang dipersepsikan.
4. Benefit pelanggan
Sebelum
dapat menentukan keseluruhan nilai pelanggan yang diciptakan, perlu ditentukan
biaya-biaya pembelian yang dipersepsikan. Posisi daya saing perusahaan terkait
dengan pelayanan yang dipersepsikan lebih tinggi dari pada kompetitor yang pada
gilirannya akan meningkatkan total biaya pembelian yang dipersepsikan. Apabila
persepsi mengenai total biaya pembelian dan total manfaat telah diperoleh maka
perusahaan dapat mengevaluasi tingkat nilai yang tercipta untuk pelanggan.
5. Benefit emosional dan
penciptaan nilai
Setiap manusia mempunyai kebutuhan fisik dan
psikologis. Setelah kebutuhan fisik terpenuhi maka manusia memerlukan kebutuhan
psikologi seperti hubungan yang hangat, afiliasi, status, pengakuan, dihormati,
kegembiraan, semangat, dan pemenuhan diri. Kebutuhan psikologis dapat dilayani
dengan membeli produk yang menawarkan serangkaian benefit emosional yang
konsisten dengan kebutuhan itu karena banyak produk memiliki personalitas
dengan makna psikologis.
PEMASARAN DAN NILAI PELANGGAN
Pemasaran juga mencakup kepuasan atas kebutuhan dan
keinginan konsumen. Tugas dari segala jenis bisnis adalah menyerahkan nilai
pelanggan untuk mendapat laba. Dalam ekonomi yang hiperkompetitif, dengan
semakin banyak pembeli rasional yang berhadapan dengan banyak sekali pilihan,
sebuah perusahaan dapat menang hanya dengan menyetel dengan baik proses
penyerahan nilai serta memilih,
menyediakan, dan mengomunikasikan nilai superior.
Proses Penyerahan Nilai
Proses Penyerahan Nilai
Pandangan tradisional tentang pemasaran adalah perusahaan membuat sesuatu dan kemudian menjualnya. Perusahaan mengetahui apa yang harus dibuat dan pasar akan membeli cukup banyak unit untuk menghasilkan laba. Perusahaan yang menganut pandangan ini memiliki peluang terbaik untuk berhasil dalam ekonomi yang ditandai dengan kekurangan barang di mana konsumen tidak rewel tentang mutu, fitur, atau gaya. Akan tetapi, pandangan tradisional tentang proses bisnis tidak akan berfungsi dalam ekonomi di mana orang menghadapi terlalu banyak pilihan. Pesaing yang cerdas harus merancang dan menyerahkan tawaran untuk pasar sasaran yang ditetapkan dengan baik. Keyakinan ini ada pada inti proses bisnis, yang menempatkan pemasaran pada awal perencanaan. Proses penyerahan nilai mulai sebelum ada produk dan terus berlanjut sementara produk tersebut dikembangkan dan setelah produk itu tersedia.
Orang Jepang menyempurnakan pandangan ini dengan
konsep berikut:
• Waktu umpan balik pelanggan nol
• Waktu perbaikan produk nol
• Waktu pembelian nol
• Waktu penetapan nol
• Kerusakan nol
Rantai Nilai
• Waktu umpan balik pelanggan nol
• Waktu perbaikan produk nol
• Waktu pembelian nol
• Waktu penetapan nol
• Kerusakan nol
Rantai Nilai
Michael Porter dari Harvard mengusulkan rantai nilai sebagai alat untuk mengidentifikasi cara menciptakan lebih banyak pelanggan. Rantai nilai mengidentifikasi sembilan kegiatan strategis dan relevan yang menciptakan nilai dan biaya di dalam bisnis tertentu. Kesembilan kegiatan itu terdiri dari lima kegiatan utama dan empat kegiatan pendukung.
Kegiatan utama mencerminkan urutan dari membawa bahan mentah ke perusahaan (inbound logistics), mengonversinya menjadi produk jadi (operations), mengirim produk jadi (outbound logistics), memasarkannya (marketing and sales), dan melayaninya (services).
Kegiatan
penunjang meliputi perolehan sumber daya
(bahan baku), pengembangan teknologi, manajemen sumber daya manusia, dan
prasarana perusahaan.
Keberhasilan perusahaan bukan hanya bergantung pada keberhasilan masing-masing bagian dalam melakukan tugasnya, melainkan juga pada keberhasilan dalam mengoordinasikan berbagai kegiatan bagian tersebut untuk melakukan proses bisnis inti.
Proses bisnis inti ini mencakup:
• Proses memahami pasar
• Proses realisasi produk baru
• Proses mendapatkan pelanggan
• Proses manajemen relasi pelanggan
• Proses manajemen pemenuhan
Untuk berhasil, suatu
perusahaan perlu mencari keunggulan kompetitif di luar operasinya sendiri, ke
dalam rantai nilai para pemasok, penyalur, dan pelanggannya. Banyak perusahaan
sekarang membentuk kemitraan dengan pemasok dan penyalur tertentu untuk
menciptakan jaringan penyerahan nilai yang lebih baik.
Orientasi Pemasaran Holistik dan Nilai Pelanggan
Orientasi pemasaran holistic dapat juga memberikan pengertian yang mendalam tentang merebut nilai pelanggan. Menurut pendapat ini, pemasar holistei berhasil dengan mengelola jaringan nilai unggul yang menyerahkan satu level mutu yang tinggi, jasa, dan kecepatan produk. Pemasar holistic mencapai pertumbuhan yang menghasilkan laba dengan memperluas pangsa pasar pelanggan, membangun kesetiaan pelanggan, dan merebut nilai masa hidup pelanggan. Kerangaka kerja pemasaran holistic dirancang untuk menjawab tiga pertanyaan manajemen kunci berikut :
1.
Eksplorasi nilai : bagaimana
perusahaan dapat mengidentifikasi peluang nilai bari ?
2.
Penciptaan nilai : bagaimanakah
perusahaan secara efesien menciptakan tawara nilai baru yang lebih menjanjikan
?
3.
Penyerahan nilai : bagaimana
perusahaan menggunakan kapabilitas dan insfrakturnya untuk menterahkan tawaran
nilai secara lebih efesien?
Nilai pelanggan -
customer value
Nilai pelanggan atau nilai customer atau customer
value adalah selisih antara manfaat yang diperoleh customer dari suatu
produk atau jasa dengan upaya dan pengorbanan yang dilakukannya untuk
mendapatkan dan menggunakan produk itu.Suatu produk atau jasa yang dibeli customer dari perusahaan semakin memuaskan jika customer itu mendapatkan value yang tinggi.
Bagi customer, value atau nilai produk atau jasa yang ditawarkan suatu perusahaan memiliki dua dimensi:
- Kinerja atau fitur produk dibandingkan dengan produk sejenis yang ditawarkan pesaing perusahaan.
- Harga atau cost. Dengan semakin banyaknya produk atau jasa sejenis yang bersaing di pasar, cost atau pengorbanan memiliki arti yang lebih luas, tidak hanya sebatas harga beli suatu produk. Sebagai contoh, kemudahan untuk mengoperasikan, ketersedian suku cadang, layanan pascapembelian, dan biaya pemeliharaan, merupakan unsur-unsur pengorbanan yang diperhitungkan oleh customer, selain harga beli produk.
Istilah customer value sangat populer dalam dunia bisnis masa kini yang sangat kompetitif. Customer value semakin penting untuk dipertimbangkan oleh perusahaan dan menjadi bagian integral strategi perusahaan, khusurnya dalam strategi pemasaran produknya.
Secara historis, dalam ilmu ekonomi konsep ini dikenal sebagai utility barang dan jasa.
Pengertian
Kepuasan Konsumen
Pengertian secara umum mengenai
kepuasan atau ketidakpuasan konsumen merupakan hasil dari adanya
perbedaan –perbedaan antara harapan konsumen dengan kinerja yang dirasakan oleh konsumen
tersebut.Dari beragam definisi kepuasan konsumen yang telah diteliti dan
didefinisikan oleh para ahli pemasaran, dapat disimpulkan bahwa kepuasan
konsumen merupakan suatu tanggapan perilaku konsumen berupa evaluasi purna beli
terhadap suatu barang atau jasa yang dirasakannya (kinerja produk) dibandingkan
dengan harapan konsumen.
Kepuasan konsumen ini sangat
tergantung pada persepsi dan harapan konsumen itu sendiri. Faktor-faktor yang
mempengaruhi persepsi dan harapan konsumen ketika melakukan pembelian suatu
barang atau jasa adalah kebutuhan dan keinginan yang dirasakan oleh konsumen
tersebut pada saat melakukan pembelian suatu barang atau jasa, pengalaman masa
lalu ketika mengkonsumsi barang atau jasa tersebut serta pengalaman teman-teman
yang telah mengkonsumsi barang atau jasa tersebut dan periklanan.
Manfaat Pengukuran Kepuasan Pelanggan
Ukuran kepuasan pelanggan dapat dikategorikan sebagai kurang
puas,puas dan sangat puas.Pengukuran mutu pelayanan dan kepuasan pelanggan
dapat digunakan untuk beberapa tujuan, yaitu :
1. Mempelajari persepsi masing-masing pelanggan terhadap mutu
pelayanan yang dicari,diminati dan diterima atau tidak di terima pelanggan,yang
akhirnya pelanggan merasa puas dan terus melakukan kerja sama.
2. Mengetahui
kebutuhan,keinginan, persyaratan, dan harapan pelanggan pada saat sekarang dan
masa yang akan datang yang disediakan perusahaan yang sesungguhnya dengan
harapan pelanggan atas pelayanan yang diterima.
3.
Meningkatkan mutu pelayanan sesuai dengan harapan-harapan
pelanggan.
Mengukur
Kepuasan Pelanggan
. Sistem keluhan dan saran
Sebuah perusahaan yang berfokus pada pelanggan
mempermudah pelanggannya untuk memberikan saran, pendapat dan keluhan mereka.Media
yang di gunakan meliputi kotak saran yang di letakkan di tempat-tempat
strategis,menyediakan kartu komentar,saluran telepon khusus dan
sebagainya.Tetapi karena metode ini cenderung pasif,maka sulit mendapatkan
gambaran lengkap mengenai kepuasan dan tidak kepuasan pelanggan.Tidak semua
pelanggan yang tidak puas lantas akan menyampaikan keluhannya.Bisa saja mereka
langsung beralih ke perusahaan lain dan tidak akan menjadi pelanggan perusahaan
tersebut lagi.
2. Survei kepuasan
pelanggan
Umumnya banyak penelitian mengenai kepuasan pelanggan di
lakukan dengan menggunakan metode survei baik melalui pos,telepon maupun
wawancara pribadi.
Pengukuran kepuasan pelanggan melalui metode ini dapat di
lakukan dengan berbagai cara[18], diantaranya :
a Directly Reported Satisfaction
Pengukuran dilakukan secara langsung melalui pertanyaan.
b Derived Dissatisfaction
Pertanyaan yang di ajukan menyangkut 2
hal utama, yaitu besarnya harapan pelanggan terhadap atribut tertentu dan
besarnya kinerja yang telah mereka rasakan atau terima.
c Problem Analysis
Pelanggan yang dijadikan responden
diminta untuk mengungkapkan 2 hal pokok,yaitu : masalah-masalah yang mereka
hadapi berkaitan dengan penawaran dari menajemen perusahaan dan saran-saran
untuk melakukan perbaikan.
d Importance-Performance
Analysis
Dalam tehnik ini responden diminta
meranking berbagai elemen dari penawaran berdasarkan derajat pentingnya setiap
elemen tersebut. Selain itu juga, responden diminta merangking seberapa baik kinerja
perusahaan dalam masing-masing elemen tersebut.
3.
Belanja siluman(Ghost shopping).
Metode ini dilaksanakan dengan cara memperkerjakan
beberapa orang(ghost shopper)untuk
berperan atau bersikap sebagai pelanggan potensial produk perusahaan dan pesaing.Lalu
ghost shopper tersebut menyampaikan
temuan-temuannya mengenai kekuatan dan kelemahan produk perusahaan pesaing
berdasarkan pengalaman mereka dalam pembelian produk-produk tersebut. Selain
itu para ghost shopper juga datang
melihat langsung bagaimana karyawan berinteraksi dan memperlakukan para
pelanggannya.Tentunya karyawan tidak boleh tahu kalau atasannya baru melakukan
penilaian akan menjadi bias.
4.
Analisis pelanggan yang hilang (lost
customer analysis)
Pihak
perusahaan berusaha menghubungi para pelanggannya yang sudah berhenti menjadi
pelanggan atau beralih ke perusahaan lain. Yang di harapkan adalah memperoleh
informasi bagi perusahaan untuk mengambil kebijakan selanjutnya dalam rangka
meningkatkan kepuasan dan loyalitas pelanggan.
Pengertian
Kepuasan Pelanggan
Kepuasan
pelanggan atau konsumen berhubungan dengan mutu dari produk yang ditawarkan
oleh merka. Kepuasaan konsumen mempunyai tingkat masing-masing tergantung apa
yang mereka proleh, Disini akan diuraikan beberapa definisi kepuasan menurut
diantaranya menurut Kotler dan keller (2007 hal 177) yang menyatakan bahwa :
“Kepuasan adalah perasaan senang atau kecewa seseorang yang muncul setelah
membandingkan kinerja (hasil) produk yang dipikirkan terhadap kinerja (atau
hasil) yang diharapkan”.
Menurut
Sunarto (2006, hal 17) “Kepuasan pelanggan adalah perasaan senang atau kecewa
seseorang yang muncul setelah membandingkan antara persepsi/kesannya terhadap
kinerja suatu produk dan harapan-harapannya”.
Menurut Yazid,
(2005, hal 55) “Kepuasan adalah merupakan ketiadaan perbedaan antara harapan
yang dimiliki dan unjuk kerjayang senyatanya”.
Sedangkan
menurut Buttle (2004, hal 29) kepuasan pelanggan adalah respons berupa perasaan
puas yang timbul karena pengalaman mengonsumsi suatu produk atau layanan, atau
sebagian kecil dari pengalaman itu.Kepuasaan pelanggan hunt dalam C.S Hutasoit
(2011 hal 19) mengkelompokkan kepuasan dalam beberapa perspektif definisi yakni
:
1) Normatif
deficit definition
2) Equity
defenition
3) Normatif
standar defenetion
4) Prodecural
fairnes definition
5)
Attributional definition
Adapun
penjelesan dari beberapa persepektif definisi
1) Normatif
deficit definition
Kepuasan ini
perbandingan antara hasil aktual dengan hasil kultur diterima
2) Equity
defenition
Kepuasan konsumen
berbanding prolehan / keuntungan yang didapatkandari pertukaran sosial bila
prolehan tersebut tidak sama maka pihak yang dirugikan tidak puas
3) Normatif
standar defenetion
Kepuasan
konsumen yang berbanding antara hasil aktual dengan harapan standar konsumen
(yang dibentuk dari pengalaman dan keyakinan mengenai tingkat kinerja yang
seharusnya ia terima dari merek tertentu)
4) Prodecural
fairnes definition
Kepuasan
konsumen yang fungsi dan keyakinan/persepektif konsumen bahwa ia telah
diperlakukan secara adil.
5)
Attributional definition
Peran
penting kepuasan
Disaat
persaingan dalam bidang bisnis semakin ketat, produsen berusaha memenuhi dan
keinginan konsumen dengan menawarkan berbagai jenis produknya, dampaknya
konsumen banyak pilahan, kukuatan tawar menawar yang saat ini semakin besar
yang mendorong setiap perusahaan untu mendorong orentasinya pada kepuasan
pelanggan, yang sebagai tujuan utam dalam perusahaan, perusahaan akan senang
bila pelanggan mendapat kepuasan, yang akibatnya pelanggan itu menjadi loyal,
sehingga akan memberikan dampak posituf bagi perusahaan.
Adapun arti
penting kepuasan pelanggan menurut Tjiptono (2002, hal 7), sebagai berikut :
- Reputasi perusahaan yang semakin positif dimata masayarakat pada umumnya dan pelanggan pada khususnya.
- Dapat mendorong terciptanya loyalitas pelanggan
- Memungkinkan terciptanya rekomendasi dari mulut ke mulut(word-of-mouth) yang menguntungkan bagi perusahaan sehingga semakin banyak orang yang akan membeli dan menggunakan produk perusahaan
- Meningkatkan volume penjualan dan keuntungan
- Hubungan antara perusahaan dan para pelanggannya menjadi harmonis
- Mendorong setiap anggota organisasi untuk bekerja denga tujuan serta kebanggan yang lebih baik
- Terbukanya peluang melakukan penjualan silang (cross-selling) produk
Faktor yang mempengaruhi Kepuasan Pelanggan
Banyak faktor
yang mempengaruhi kepuasan pelanggan, disini akan dijelasakan faktor-faktor
yang mempengaruhi kepuasan pelanggan, menurut Zeithaml dan bitner dalam C.S
Hutasoit, faktor yang mempengaruhi kepuasan pelanggan adalah
1) Tampilan
produk
2) Emosi
konsumen
3)
Perlengkapan untuk kesuksesan atau kegagalan pelayanan
4) Persepsi
terhadap keadilan dan kejujuran
5) Konsumen
lain, anggota keluarga dan teman yang lain
Sedangkan menurut Menurut Irawan, (2002, hal.37) ada 5 driver , yaitu:
1) Kulitas
produk
2) Harga
3) Kualitas
pelayanan (Service Quality)
4) Faktor
Emosional (Emotional Factor)
5) Biaya
Dari kelima
faktor yang dikemukakan diatas dapat dijelaskan sebagai berikut:
1) Kualitas
produk
Pelanggan puas
kalau setelah membeli dan menggunakan produk tersebut ternyata kualitas
produknya baik.
2) Harga
Untuk
pelanggan yang sensitif, biasanya harga murah adalah sumber kepuasan yanng
penting karena mereka akan mendapatkan value for money yang tinggi.
3) Kualitas
pelayanan (Service Quality)
Service
Quality sangat bergantung pada tiga hal. Yaitu sistem, teknologi, dan manusia.
4) Faktor
Emosional (Emotional Factor)
Rasa bangga,
rasa percaya diri, simbol sukses, bagian dari kelompok orang penting dan
sebagainya adalah contoh-contoh emotional value yang mendasari kepuasan
pelanggan.
5) Biaya
Pelanggan akan
semakin puas apabila relatif mudah, nyaman dan efisien dalam mendapatkan produk
atau pelayanan
Dari teori
diatas, ada beberapa faktor yang mempengaruhi faktor kepuasa pelanggan. Dengan
demikan jelaslah kiranya bahwa yang dimaksud dengan kepuasan konsumen atas
pelayanan sesuai harapan.
Indikator
Kepuasan
Menurut
pendapat Lovelock yang dikutip Tjiptono dalam C.S Hutasoit (2011, hal 24), ada
beberapa metode untuk mengevaluasi kepuasan, meliputi :
1) Kenerja
(Performance)
Karekteristik
pokok dari suatu produk dan merupakan kareteristik utama yang dipertimbangkan
konsumen dala membeli suatu produk
2) Ciri-ciri
atau keistimewaan tambahan (Features)
Dari fungsi
dasar , berkaitan dengan pilihan-pilihan produk dan pengembangannya, yaitu
karakteristik skunder atau pelengkap
3) Keandalan
(Reability)
Kecilnya
kemungkinan suatu barang atau jasa rusak atau gagal fungsi dalam periode waktu
tertentu dan kondisi tertentu
4) Kesesuaian
dengan spesifikasi (conformance to specification)
Sejauh mana
karekteristik desain dan operasi memenuhi standar yang ditetapkan sebelumny
berdasarkan keinginanan konsumen
5) Daya tahan
(durability)
Berkaitan
dengan umur teknis dan umur produk
6) Mudah
diperbaiki (serviceability)
Meliputi
kecepatan, kompetensi, kenyamanan, mudah direparasi, serta penanganan keluhan
yang memuaskan
7) Estetika
(aesthetics)
Daya tarik
produk menurut pengindraan konsumen, misalnya model desain dan warna.
Berikut ini adalah beberapa teknik yang dapat membantu dalam mempertahankan
pelanggan:1. Budaya Perusahaan.
Budaya perusahaan harus mendemonstrasikan pelayanan pada pelanggan. Perusahaan menaruh pelanggan pada tingkat yang pertama diatas lainnya. Contohnya adalah budaya perusahaan di maskapai penerbangan, dimana pramugari dan seluruh kru harus melayani pelanggan dengan baik mulai dari lepas landas hingga tiba di tempat tujuan.
2. Diferensiasi.
Anda harus bisa menawarkan sesuatu yang berbeda dibandingkan pesaing Anda. Jika Anda tidak bisa menawarkan sesuatu yang unik, maka pelanggan akan sulit membedakan Anda dengan pesaing. Anda bisa dianggap tidak mempunyai nilai tambah dibandingkan dengan mereka.
Jack Trout dalam bukunya “Differentiate or Die” mengungkapkan, bahwa untuk melakukan diferensiasi, terkadang perusahaan harus melepaskan bisnisnya. Dulu ada perusahaan Emery AirFreight, yang merupakan jasa kurir terbesar dan mereka melayani segala jenis pengiriman. Kemudian ada juga Federal Express, yang hanya menawarkan pengiriman kemasan kecil overnight. Perbedaan mereka adalah: overnight. Hasilnya? FedEx berhasil jadi jasa pengiriman tersukses di dunia, sementara itu Emery malah bangkrut.
3. Data.
Perusahaan banyak menghabiskan dana untuk software mengelola pelanggan, namun seringkali data tersebut salah digunakan. Oleh karena itu, Anda harus memanfaatkan data tersebut dengan tepat. Aplikasikan teknik yang tepat, maka data tersebut akan bisa membantu dalam program Anda.
4. Komunitas.
Untuk mempererat hubungan dengan pelanggan, maka Anda bisa membentuk komunitas dari kumpulan pelanggan Anda. Bahkan CEO juga idealnya ikut berkecimpung dalam komunitas. Dengan begitu, maka akan hubungan dekat dengan pelanggan akan semakin terjalin.
Komunitas kini sudah menjadi praktik yang umum di dunia pemasaran. Komunitas, yaitu sekelompok orang yang merupakan pengguna produk maupun layanan tertentu, berkumpul dan bersosialisasi. Komunitas bisa jadi salah satu alat pemasaran yang kuat dalam mempertahankan loyalitas pelanggan jika dimanfaatkan dengan optimal.
5. Kontrol Internal.
Pelayanan terhadap pelanggan adalah sebuah fungsi internal. Setiap karyawan haruslah diperlakukan sama. Jika karyawan merasa diperlakukan buruk, maka mereka akan berlaku sama terhadap pelanggan. Pastikan bahwa para karyawan memahami industri, tren persaingan, dan data-data pelanggan. Karyawan yang memiliki kepercayaan diri dalam peran yang dibawakannya, maka akan menjadi lebih produktif.
6. Menangani Komplain.
Dalam bisnis yang berkaitan dengan pelanggan dan pelayanan, maka komplain akan selalu ada. Diantara komplain-komplain tersebut pasti ada beberapa yang valid. Oleh karena itu, Anda harus menyediakan waktu untuk untuk menganalisa isu ini dan menyelesaikan masalah tersebut.
7. Tempatkan diri Anda sebagai konsumen.
Sebagai CEO dari perusahaan, maka Anda juga adalah konsumen. Jika Anda adalah konsumen, maka pikirkan isu apa saja yang penting bagi Anda? Menempatkan diri Anda sebagai konsumen setidaknya menjadikan Anda bisa mempelajari cara berpikir mereka. Hal tersebut bisa jadi merupakan kunci sukses dalam memahami pelanggan.
Pengertian Mutu
Dugaan dan penafsiran yang sering timbul bahwa
"mutu" diartikan sebagai sesuatu yang :
- Unggul
dan bermutu tinggi
- Mahal
harganya
- Kelas,
tingkat atau bernilai tinggi
Dugaan dan penafsiran tersebut di atas kurang tepat untuk
dijadikan dasar dalam menganalisa dan menilai mutu suatu produk atau pelayanan.
Tidak jauh berbeda dengan kebiasan mendefinisikan "mutu" dengan cara
membandingkan satu produk dengan produklainnya. Kedua pengertian mutu tersebut
pada dasarnya mengartikan tingkat keseragaman yang dapat diramalkan dan
diandalkan, disesuaikan dengan kebutuhan serta dapat diterima oleh pelanggan (custumer).
Secara
singkat mutu dapat diartikan: kesesuaian penggunaan atau kesesuaian tujuan atau
kepuasan pelanggan atau pemenuhan terhadap persyaratan.
Mutu Harus Berfokus pada Kebutuhan Pelanggan
Prinsip mutu, yaitu memenuhi kepuasan pelanggan (customer
satisfaction). Dalam manajemen mutu, pelanggan dibedakan menjadi dua,
yaitu:
- Pelanggan
internal
- Pelanggan
eksternal
Pada pengertian manajemen tradisional, yang dimaksud
pelanggan adalah pelanggan eksternal (di luar organisasi). Mengapa pelanggan
internal menjadi perhatian manajemen mutu? Jawabnya, adalah apabila pribadi
yang ada di dalam organisasi tersebut dilayani dengan baik, otomatis mereka
akan melayani pelanggan eksternal secara baik pula.
Organisasi dikatakan bermutu apabila kebutuhan pelanggan
bisa dipenuhi dengan baik. Dalam arti bahwa pelanggan internal, misal karyawan,
selalu mendapat pelayanan yang memuaskan dari petugas kebersihan, Direksi
selalu puas terhadap hasil kerja karyawan dan staf HRD selalu menanggapi
keinginan dari pelanggan.
Prinsip-prinsip Manajemen Mutu
Manajemen mutu adalah aspek dari seluruh fungsi manajemen
yang menetapkan dan melaksanakan kebijakan mutu. Pencapaian mutu yang
diinginkan memerlukan kesepakatan dan partisipasi seluruh anggota organisasi,
sedangkan tanggung jawab manajemen mutu ada pada pimpinan puncak. Untuk
melaksanakan manajemen mutu dengan baik dan menuju keberhasilan, diperlukan
prinsip-prinsip dasar yang kuat. Prinsip dasar manajemen mutu terdiri dari
beberapa hal, sebagai berikut:
- berfokus
pada pelanggan;
- berfokus
pada upaya untuk mencegah masalah;
- investasi
pada manusia;
- memiliki
strategi untuk mencapai kualitas;
- memperlakukan
keluhan sebagai umpan balik untuk memperbaiki diri;
- memiliki
kebijakan (policy) dalam perencanaan untuk mencapai kualitas;
- mengupayakan
proses perbaikan dengan melibatkan semua orang;
- membentuk
fasilitator yang berkualitas untuk memimpin proses perbaikan;
- mendorong
orang yang dipandang memiliki kreativitas dan mampu menciptakan kualitas;
- memperjelas
peranan dan tanggung jawab setiap orang;
- memiliki
strategi evaluasi yang jelas;
- memandang
kualitas sebagai jalan menuju perbaikan kepuasan layanan;
- memandang
kualitas sebagai bagian dari kebudayaan;
Untuk mendukung prinsip mutu
di atas, harus didukung dengan ketersediaan struktur organisasi yang jelas,
dimana:
- struktur yang pasti harus berupa struktur yang mampu
melancarkan proses pengelolaan mutu secara menyeluruh dan kondusif bagi
perbaikan kulitas
- mengutamakan kerja sama tim (team work)
- mengurangi fungsi kontrol dan penjadwalan dari
manajemen menengah
- membentuk tim terstruktur dengan sistem manajemen yang
sederhana tapi efektif
- mengupayakan agar semua anggota tim memahami visi dan
potensi lembaga agar menjadi kompak
- mengusahakan agar keseluruhan proses berada di bawah
satu komando yang hubungan kerjanya sederhana
- mengadakan penilaian keberhasilan pengelolaan sebagai
media untuk merumuskan visi.
3. ANALISIS
Jadi dengan kita mengertinya dasar
dari konsep pemasaran kita dapat blajar menjadi pengusaha sedikit demi sedikit
karena kita bias mengetahui bagai mana cara sistem pemasaran yang baik dan
berguna.
Referensi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar