Jurnal Tentang etika Profesi Akuntansi #
N: 2302-8556
E-Jurnal Akuntansi Universitas Udayana 10.3 (2015): 797-809
PENGARUH PROFESIONALISME, ETIKA PROFESI, INDEPENDENSI, DAN MOTIVASI KERJA
PADA KINERJA INTERNAL AUDITOR
ABSTRAK
Penelitian
ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh profesionalisme, etika profesi,
independensi, dan motivasi kerja pada kinerja internal auditor pada Dealer
Yamaha di Kota Denpasar. Penelitian ini dilakukan karena adanya perbedaan
kepentingan kepemilikan dan manajemen perusahaan, maka dari itu kinerja
internal auditor perlu diperhatikan untuk memeriksa dan mendeteksi kemungkinan
dan resiko yang terjadi dengan melakukan audit secara berkala dan mengungkap
tiap temuan yang ada. Penelitian ini dilakukan di seluruh dealer Yamaha di kota
Denpasar yang terdapat pada wilayah kota Denpasar meliputi Denpasar Utara,
Denpasar Timur, Denpasar Barat dan Denpasar Selatan tahun 2014 dengan
menjadikan internal auditor sebanyak 36 orang sebagai sampel. Data dikumpulkan
dengan menggunakan kuesioner. Penelitian ini menggunakan teknik analisis
regresi linear berganda. Dari hasil analisis, d.iketahui bahwa profesionalisme, etika
profesi, independensi dan motivasi kerja berpengaruh positif pada kinerja
auditor pada dealer Yamaha di kota Denpasar. Variabel profesionalisme, etika
profesi, independensi dan motivasi kerja berkontribusi sebanyak 93,6 persen
pada kinerja internal auditor.
Kata kunci: Profesionalisme, etika profesi, independensi,
motivasi kerja dan kinerja internal auditor.
PENDAHULUAN
Pada era globalisasi saat ini banyak sekali terjadi kasus-kasus hukum yang
melibatkan manipulasi akuntansi. Profesi auditor telah menjadi sorotan
masyarakat dalam beberapa tahun terakhir (Abu, 2013). Saat auditor menjalankan
profesinya, auditor akan diatur sesuai kode etiknya yang dikenal dengan Kode Etik
Akuntan. Dian (2011) menyatakan bahwa masyarakat mampu menilai auditor yang
telah bekerja sesuai dengan standar-standar etika yang telah ditetapkan oleh
profesinya melalui kode etik.
Deva Aprianti (2010) menyatakan negara yang banyak terdapat perusahaan
berbentuk perseroan terbatas yang sifatnya terbuka, profesi auditor semakin
dibutuhkan karena sangat besar kemungkinan manajemen perusahaan terpisah dengan
pemilikan perusahaan. Pemilik perusahaan hanya sebagai penanam modal, untuk itu
jasa dari para auditor yang bekerja di suatu perusahaan sangatlah dibutuhkan
guna menilai apakah laporan keuangan suatu perusahaan sudah di sajikan secara
wajar dan dapat dipertanggung jawabkan (Danielle
and Miguel, 2009).
Menjaga kepercayaan menjadi kewajiban auditor dihadapan klien maupun pihak
ketiga dengan senantiasa meningkatkan keahlian profesionalnya (Mu’azu and Siti,
2013). Seiring dengan meningkatnya kompetisi dan perubahan global, profesi
auditor pada saat ini dan masa mendatang bersiap untuk menghadapi tantangan
yang semakin berat (Asri et al., 2014).
Kinerja auditor merupakan kemampuan seorang auditor dalam menghasilkan
temuan dari kegiatan pemeriksaan (Nasrullah et al, 2013). Husamet
al, (2013) menyatakan untuk menunjang keberhasilan dalam menjalankan tugas dan
fungsinya dengan baik, sangatlah diperlukan kinerja auditor yang baik dan
berkualitas. Kinerja kerap digunakan untuk menunjukan prestasi individu maupun
kelompok individu (Marion, 2009).
Shab (2013) menemukan bahwa profesional dan etika profesi berpengaruh
terhadap kinerja auditor. Dian (2011) menyatakan tingkat materialitas
dipengaruhi oleh tingkat pendidikan dan motivasi kerja, secara tidak langsung
tingkat materialitas merupakan proksi dan kinerja auditor. Motivasi kerja
merupakan sistem nilai yang diyakini oleh anggota organisasi untuk mencapai
tujuan organisasi. Motivasi kerja berkaitan dengan sikap atau perilaku
seseorang yang dalam hal ini adalah para auditor, dan bisa dikatakan bahwa segi
sumber daya manusia berpengaruh terhadap kinerja auditor (Deva, 2010).
Profesionalisme yang meliputi kemampuan penguasaan baik secara teknis,
maupun secara teoritis bidang keilmuan dan ketrampilan yang berhubungan dengan
tugasnya, sebagai pemeriksa (Asri et al., 2014). Adanya keahlian
dan kemampuan dalam melaksanakan pemeriksaan akan dapat mengetahui kekeliruan
serta penyimpangan yang merupakan salah satu bagian kompetensi seorang auditor
(Febrianty, 2012).
Deva (2010) menyatakan profesionalisme menjadi syarat utama bagi seseorang
yang menjadi auditor internal, sebab dengan profesionalisme yang tinggi,
kebebasan auditor akan semakin terjamin. Usaha-usaha yang dilakukan untuk
mendukung profesionalisme auditor yaitu dengan disusun dan disahkannya Kode
Etik Ikatan Akuntan Indonesia oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI). Etik Ikatan Akuntan Indonesia merupakan suatu aturan yang mengikat secara
moral atau norma perilaku yang mengatur hubungan antara akuntan dengan
paraklien, akuntan dengan sejawatnya dan antara profesi auditor dengan
masyarakat (Abu, 2013).
Auditor yang menegakkan independensinya, tidak akan terpengaruh dan tidak
dipengaruhi oleh berbagai kekuatan yang berasal dari luar diri auditor dalam
mempertimbangkan fakta yang dijumpainya dalam pemeriksaan. Satyo (2005: 17)
menyatakan dalam menjalankan profesinya seorang auditor harus memerhatikan dan
mematuhi aturan etika profesi.
Handriyani
dan Azhar (2011) menyatakan motivasi adalah kekuatan yang mendorong sesorang
pegawai yang menimbulkan dan menggerakan perilaku. Motivasi adalah faktor
penting dalam melaksanakan suatu pekerjaan. Perbedaan motivasi membuat setiap
orang berperilaku dan bereaksi -berbeda pada suatu jenis pekerjaan. Disamping
itu tinggi rendahnya motivasi seseorang juga berpengaruh pada kinerja. Motivasi
merupakan suatu pembentukan perilaku yang ditandai bentuk-bentuk aktivitas atau
kegiatan melalui proses psikologis, baik yang dipengaruhi oleh faktor intrinsik
maupun ekstrinsik yang dapat mengarahkannya dalam mencapai apa yang
diinginkannya yaitu tujuan (Kamaliah et al., 2009:143). Motivasi
akan membuat seseorang untuk bekerja semaksimal mungkin. Oleh karena itu,
motivasi kerja juga merupakan faktor penting dalam memprediksi dan menilai
kinerja auditor (Sulton, 2010).
Kota Denpasar dipilih sebagai lokasi penelitian, mengingat dengan banyaknya
penduduk kota Denpasar berdampak pula pada perkembangan dunia otomotif khususnya kendaraan roda dua sekarang ini mengalami kemajuan yang
cukup pesat seiring tingginya tingkat kebutuhan masyarakat akan keperluan
transportasi yang menimbulkan persaingan yang semakin ketat antara perusahaan
yang satu dengan yang lainnya.
Dealer Yamaha adalah suatu perusahaan yang berperan sebagai perusahaan
dagang sepeda motor resmi Yamaha yang menangani penjualan sepeda motor, suku
cadang, serta melayani jasa servis. Penelitian ini dilakukan karena adanya
perbedaan kepentingan kepemilikan dan manajemen perusahaan, maka dari itu
kinerja internal auditor perlu diperhatikan. Pada Dealer Yamaha, sistem
penjualan sepeda motor dan suku cadang pada perusahaan tersebut sudah terkomputerisasi,
namun pada setiap bagian operasional masih melibatkan beberapa jumlah staf dan
belum dapat menghasilkan laporan penjualan dan laporan servis secara cepat dan
tepat. Maka Internal audit digunakan untuk memeriksa dan mendeteksi kemungkinan
dan risiko yang terjadi, dengan melakukan audit secara berkala, mengumpulkan
bukti-bukti secara akurat, serta mereview hasil audit dan melakukan penilaian.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan pada seluruh dealer Yamaha di kota Denpasar yang
terdapat pada wilayah kota Denpasar tahun 2014. Seluruh internal auditor yang
ada pada dealer Yamaha di kota Denpasar akan menjadi populasi dalam penelitian
ini. Responden pada penelitian ini diambil dari keseluruhan populasi sebanyak
36 internal auditor Dealer Yamaha Di Kota Denpasar menggunakan metode
sensus (Riduwan dan Sunarto, 2007:17). Daftar nama dealer dan jumlah masing-masing
auditor internal bisa dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1.
Daftar Nama Dealer Yamaha dan Jumlah Internal Auditor
Jumlah
|
||||
No
|
Nama Dealer
|
Alamat Dealer
|
Auditor
|
|
(Orang)
|
||||
1.
|
SENTRAL YAMAHA
|
Jl. Teuku Umar 142
|
3
|
|
2.
|
UD. BISMA
|
Jl. Hasanudin 74
|
2
|
|
3.
|
BISMA MOTOR
|
Jl. Imam Bonjol No. 551 C-D
|
2
|
|
4.
|
BISMA MANDIRI
|
Jl. Marlboro/ Jl. Teuku Umar
Barat
|
3
|
|
100X
|
||||
5.
|
UD. WAJA UTAMA AGUNG
|
Jl. Gunung Agung 104/ 124
|
2
|
|
MOTOR
|
||||
6.
|
MATARAM SAKTI / FSS
|
Jl. Diponegoro No. 57
|
2
|
|
7.
|
PT.KINTAMANI SEJAHTERA
|
Jl. Hangtuah No. 88 – Sanur
|
2
|
|
8.
|
UD. PANGESTU MOTOR
|
Jl. Sesetan 58-60
|
1
|
|
9.
|
AGUNG MOTOR CENTER
|
Jl. Cokroaminoto 18
|
3
|
|
10.
|
PT BINTANG MUDA MANDIRI
|
Jl. Cokroaminoto 78
|
2
|
|
11
|
TRI TUNGGAL SEJAHTERA
|
Jl. Gatot Subroto 21 X
|
2
|
|
12
|
WAJA MOTOR
|
Jl. Ahmad yani 259
|
3
|
|
13
|
KINTAMANI MOTOR
|
Jl. Kartini 35
|
2
|
|
14
|
UD. NIAGA MOTOR
|
Jl. Patimura 8
|
1
|
|
15
|
WAJA MOTOR DENPASAR
|
Jl. Hayam Wuruk 72C
|
2
|
|
16
|
BISMA WR SUPRATMAN
|
Jl. WR. Supratman 76
|
2
|
|
17
|
BALI MANDIRI MOTOR
|
Jl. Gatot Subroto Timur No.
32
|
2
|
|
Jumlah
|
36
|
|||
Sumber: Data Primer Diolah, 2014
Data dalam penelitian ini dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner.
Kuesioner dalam penelitian ini menggunakan skala Likert 4, hal ini dilakukan
untuk menghindari bias jawaban apabila menggunakan skala Likert 5 yang akan
memungkinkan responden untuk selalu memilih jawaban netral (Moeljono, 2002
dalam Antari , 2006).
Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah regesi linear
berganda. Sebelum dilakukan uji regresi linear berganda, terlebih dahulu
dilakukan
uji instrumen untuk kuesioner yang digunakan. Uji instrumen tersebut adalah uji
validitas dan reliabilitas. Setelah dilakukannya uji instrumen, maka
dilanjutkan ke transformasi data menjadi data interval dan uji asumsi klasik
(uji normalitas, multikolinearitas, dan heteroskedastisitas).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil pengembalian dan kuesioner yang layak digunakan pada penelitian ini bisa
dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2.
Rincian Pengembalian Kuesioner
Keterangan
|
Jumlah Kuesioner
|
Kuesioner yang disebar
|
36
|
Kuesioner yang tidak
dikembalikan
|
0
|
Kuesioner yang dikembalikan
|
36
|
Kuesioner yang tidak masuk
kriteria
|
0
|
Kuesioner yang digunakan
|
36
|
Tingkat pengembalian yang
digunakan
|
36/36 x 100% = 100%
|
Sumber: Data Primer Diolah, 2014
Hasil uji validitas dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3.
Uji Validitas
Variabel
|
Instrumen
|
Pearson Correlation
|
|
Kinerja Internal Auditor
|
Y1
|
- Y5
|
0,820 - 0,927
|
Profesionalisme
|
X1.1
|
- X1.6
|
0,781 - 0,890
|
Etika Profesi
|
X2.1
|
- X2.4
|
0,787 -
0,927
|
Independensi
|
X3.1
|
- X3.4
|
0,805 - 0,909
|
Motivasi Kerja
|
X4.1
|
- X4.4
|
0,792 - 0,912
|
Syarat Valid
|
> 0,30
|
||
Sumber: Data Primer Diolah, 2014
Dari Tabel 3 terlihat seluruh instrumen telah memenuhi syarat valid yaitu
nilai Pearson Corellation lebih besar dari 0,30 (Sugiyono,
2009: 178).
Hasil uji validitas dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3.
Uji Validitas
Variabel
|
Instrumen
|
Pearson Correlation
|
|
Kinerja Internal Auditor
|
Y1
|
- Y5
|
0,820 - 0,927
|
Profesionalisme
|
X1.1
|
- X1.6
|
0,781 - 0,890
|
Etika Profesi
|
X2.1
|
- X2.4
|
0,787 -
0,927
|
Independensi
|
X3.1
|
- X3.4
|
0,805 - 0,909
|
Motivasi Kerja
|
X4.1
|
- X4.4
|
0,792 - 0,912
|
Syarat Valid
|
> 0,30
|
||
Sumber: Data Primer Diolah, 2014
Dari Tabel 3 terlihat seluruh instrumen telah memenuhi syarat valid yaitu
nilai Pearson Corellation lebih besar dari 0,30 (Sugiyono,
2009: 178).
Hasil uji reliabilitas dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4.
|
||
Uji Reliabilitas
|
||
Variabel
|
Cronbach's
|
|
Alpha
|
||
Kinerja Internal Auditor
|
0,921
|
|
Profesionalisme
|
0,919
|
|
Etika Profesi
|
0,873
|
|
Independensi
|
0,894
|
|
Motivasi Kerja
|
0,872
|
|
Syarat Reliabel
|
> 0,60
|
|
Sumber: Data Primer Diolah, 2014
Dari Tabel 4 seluruh variabel telah memenuhi syarat lolos uji reliabilitas
yaitu lebih besar dari 0,60. Hal ini menunjukan bahwa seluruh instrumen telah
reliabel dan dapat memberikan hasil yang konsisten (Ghozali, 2007: 42).
Hasil uji asumsi klasik dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5.
Uji Asumsi Klasik
Variabel
|
Uji
|
Uji Multikolinearitas
|
Uji
|
||
Normalitas
|
Heteroskedastisitas
|
||||
Tollerance
|
VIF
|
||||
Profesionalisme
|
0,323
|
3,1
|
0,377
|
||
Etika Profesi
|
0,823
|
0,22
|
4,546
|
0,971
|
|
Independensi
|
0,285
|
3,514
|
0,659
|
||
Motivasi Kerja
|
0,204
|
4,895
|
0,671
|
||
Syarat Lolos Uji
|
> 0,05
|
> 0,1
|
< 10
|
> 0,05
|
Sumber: Data Primer Diolah, 2014
Dari Tabel 5 dapat dilihat bahwa seluruh uji asumsi klasik telah memenuhi
persyaratan lolos uji. Hal ini berarti bahwa data penelitian ini telah
berdistribusi
normal, bebas dari gejala multikolinearitas, dan bebas dari
heteroskedastisitas.
Hasil regresi linear berganda
bisa dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6.
Regresi Linear Berganda
Variabel
|
Beta
|
Sig.
|
|||
Profesionalisme
|
0,225
|
0,005
|
Constant
|
:
|
1,020
|
Etika Profesi
|
0,243
|
0,012
|
Sig. F
|
:
|
0,000
|
Independensi
|
0,382
|
0,000
|
Adjusted R Square
|
:
|
0,936
|
Motivasi Kerja
|
0,217
|
0,029
|
Sumber: Data Primer Diolah, 2014
Pada Tabel 6 dapat dilihat bahwa hasil signifikansi uji F memiliki nilai
0,000. Nilai ini lebih kecil dari 0,05 sehingga hasil ini menunjukan bahwa
variabel profesionalisme, etika profesi, independensi, dan motivasi kerja dapat
memprediksi atau menjelaskan fenomena kinerja internal auditor. Nilai Adjusted
R2 pada Tabel 6 adalah
0,936, hasil ini memiliki arti bahwa variasi kinerja internal auditor dapat
dijelaskan 93,6% oleh variabel profesionalisme, etika profesi, independensi,
dan motivasi kerja. Sedangkan sisanya 6,4% dipengaruhi oleh variabel lain yang
tidak dimasukan ke dalam model.
Pada Tabel 6 diketahui bahwa nilai ß1 untuk variabel
profesionalisme sebesar 0,225 dengan tingkat signifikansi 0,005 lebih kecil
dari 0,05. Hal ini menunjukan bahwa variabel profesionalisme berpengaruh
positif dan signifikan pada kinerja internal auditor pada dealer Yamaha di Kota
Denpasar. Hasil ini memiliki makna bahwa semakin tinggi profesionalisme maka
semakin meningkatnya kinerja internal auditor dalam mengaudit laporan keuangan
dan begitu juga sebaliknya. Hasil penelitian ini juga didukung oleh hasil
penelitan dari Abu Nizarudin (2013) yang menyatakan bahwa adanya
profesionalisme pada auditor akan meningkatkan kinerjanya dalam melakukan audit
laporan keuangan.
Pada Tabel 6 diketahui bahwa nilai ß2 untuk variabel etika
profesi sebesar 0,243 dengan tingkat signifikansi 0,012 lebih kecil dari 0,05.
Hal ini menunjukan bahwa variabel etika profesi berpengaruh positif dan signifikan
pada kinerja internal auditor pada dealer Yamaha di Kota Denpasar. Hasil
penelitian ini menunjukan bahwa semakin tinggi etika profesi pada seorang
auditor maka semakin tinggi kinerja audit yang dilakukan auditor dalam
mengaudit laporan keuangan dan begitu juga sebaliknya. Hasil penelitian ini
juga didukung oleh hasil penelitan dari Hery
dan Merrina (2007) yang menyatakan etika profesi dari seorang
auditor sangat diperlukan karena dengan adanya etika profesi maka tidak ada
keraguan akan hasil audit yang dihasilkan.
Pada Tabel 6 diketahui bahwa nilai ß3 untuk variabel
independensi sebesar 0,382 dengan tingkat signifikansi 0,000 lebih kecil dari
0,05. Hal ini menunjukan bahwa variabel independensi berpengaruh positif dan
signifikan pada kinerja internal auditor pada Dealer Yamaha di Kota Denpasar.
Hasil penelitian ini menunjukan bahwa semakin tinggi independensi yang dimiliki
oleh seorang auditor maka semakin tinggi kinerja audit yang dilakukan auditor
dalam mengaudit laporan keuangan dan begitu juga sebaliknya. Hasil penelitian
ini sesuai dengan penelitian Restu dan Nastia (2013) yang menyebutkan bahwa
independensi seorang auditor sangat dibutuhkan dalam menjalankan tugasnya serta
memiliki pengetahuan dan pengalaman yang memadai untuk mengurangi salah saji
material yang diakibatkan dari kesalahaan dalam proses audit laporan.
Pada Tabel 6 diketahui bahwa nilai ß4 untuk variabel motivasi
kerja sebesar 0,217 dengan tingkat signifikansi 0,029 lebih kecil dari 0,05.
Hal ini menunjukanbahwa variabel motivasi kerja berpengaruh positif dan
signifikan pada kinerja internal auditor pada Dealer Yamaha di Kota Denpasar.
Hasil penelitian ini menunjukan bahwa semakin tinggi motivasi kerja seorang
auditor maka semakin tinggi kinerja auditor dalam mengaudit laporan keuangan dan
begitu juga sebaliknya. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Darlisman
(2009) yang menyebutkan bahwa auditor yang memiliki motivasi dalam menjalankan
tugasnya mampu memberikan hasil yang baik dalam menjalankan pekerjaanya.
Motivasi kerja diperlukan dalam kinerja audit untuk memberikan rasa semangat
yang akan mempengaruhi kinerja auditor.
SIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil pembahasan, maka dapat disimpulkan bahwa profesionalisme,
etika profesi, independensi, dan motivasi kerja berpengaruh positif pada
kinerja internal auditor pada Dealer Yamaha di Kota Denpasar. Saran yang bisa
diberikan antara lain, bagi Dealer Yamaha di Kota Denpasar sebaiknya
memperhatikan profesionalisme, etika profesi, independensi dari auditor yang
akan mempengaruhi cara kerja auditor dalam melakukan proses audit. Bagi auditor
sendiri, hendaknya selalu meningkatkan motivasi kerja dibidangnya karena akan
mempengaruhi proses kinerjanya. Selain itu, bagi peneliti selanjutnya
disarankan untuk memperluas wilayah penelitian hingga keluar kabupaten dan
propinsi atau mungkin bisa dikembangkan pada perusahaan lainnya sehingga hasil
penelitian dapat digeneralisasikan.
Abu
Nizarudin, 2013. Pengaruh etika, pengalaman audit, dan independensi terhadap
Skeptisisme professional Auditor Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia
Perwakilan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Jurnal Akuntansi & Keuangan, 6(1): h: 1-13.s
Asri Usman,
Made Sudarma, Hamid Habbe, and Darwis Said, 2014. Effect of Competence
Factor, Independence and Attitude against Professional Auditor Audit Quality
Improve Performance in Inspectorate (Inspectorate Empirical Study in South
Sulawesi Province). Journal of Business and Management, 16
(1): h: 1-13
Danielle E. Warren and Miguel Alzola, 2009. Ensuring Independent
Auditors: Increasing the Saliency of the Professional Identity. Journal of Business and
Management, 18 (1): h:
41-56
Darlisman
Dalmy, 2009. Pengaruh SDM, Komitmen, Motivasi terhadap Kinerja Auditor
dan Reward Sebagai Variabel moderating pada
Inspektorat Provinsi Jambi. Tesis Universitas Sumatera Utara
Deva
Aprianti, 2010. Pengaruh kompetensi, independensi, dan keahlian profesionalisme
terhadap kualitas audit dengan etika auditor sebagai variabel moderasi. Karya
ilmiah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Dian
Agustia, 2011. The influence of auditor’s professionalism to turnover intentions,
an empirical study on accounting firm in java and Bali, Indonesia. Journal of
Economics and Engineering, 2 (1): h: 13-17
Dian
Mayasari, 2011. Pengaruh profesionalisme, independensi, kompetensi, etika
profesi, dan pengetahuan auditor dalam menditeksi kekeliruan terhadap ketepatan
pembelian opini audit oleh auditor. Karya ilmiah UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta.
Febrianty, 2012. Pengaruh
Profesionalisme Auditor terhadap pertimbangan tingkat
materialitas Audit Atas Laporan Keuangan. Jurnal Ekonomi dan Informasi
Akuntasi. 2(2): h:159-200.
Fearnley, S.
and Beattie, V. and Brandt, R, 2005. Auditor independence and audit risk:
a reconceptualisation. Journal of International Accounting
Research,
4(1): h:39-71
Ghozali,
Imam. 2006. Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS. Edisi
kc-2. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro.
Handriyani
Dwilita dan Azhar Maksum, 2011. Analisis pengaruh motivasi, stress, dan rekan
kerja terhadap Kinerja Auditor di Kantor Akuntan Publik (KAP). Jurnal Keuangan
dan Bisnis, 3(1): h: 23-36
Hery dan Merrina Agustiny, 2007. Pengaruh pelaksanaan etika profesi
terhadap pengambilan keputusan Akuntan Publik (Auditor). Jurnal Akuntansi dan Manajemen, 18(3): h:1-97
Husam
Al-Khaddash, Rana Al Nawas, and Abdulhadi Ramadan, 2013. Factors affecting
the quality of Auditing: The Case of Jordanian Commercial Banks. International
Journal of Business and Social Science. 4(11): h: 206-222
Ikatan
Akuntan Indonesia. 2001. Standar Profesional Akuntan Publik. Jakarta:
Salemba Empat.
Kamaliah,
Ahmad Rifqi, Mitha Elistha, 2009. gaya kepemimpinan, budaya organisasi,
motivasi kerja terhadap kinerja akuntan pemerintah. Jurnal
Akuntansi dan Manajemen, 2(1): h: 01-11
Marion
Hutchinson, 2009. Internal Audit Quality, Audit Committee Independence, Growth
Opportunities and Firm Performance. International Journal of
Business and Social Science, 7(2): h:50-63
Mu’azu Saidu
Badara and Siti Zabedah Saidin, 2013. The Relationship between Audit
Experience and Internal Audit Effectiveness in the Public Sector Organizations.
International Journal of Academic Research in Accounting, Finance and
Management Sciences, 3(3): h: 329-339
Restu Agusti
dan Nastia Putri Pertiwi, 2013. Pengaruh kompetensi, independensi dan
profesionalisme terhadap kualitas audit (Studi Empiris pada Kantor Akuntan
Publik se Sumatera). Jurnal Ekonomi, 21(3): h: 1-13
Riduwan dan
Sunarto. 2007. Pengantar Statistika Untuk Penelitian Pendidikan, Sosial,
Ekonomi, dan Bisnis. Bandung : Alfabeta.
Shab Hundal,
2013. Independence, Expertise and Experience of Audit Committees:
Some Aspects of Indian Corporate Sector. American International
Journal of Social Science, 2(5): h: 58-75
Satyo. 2005.
Mendorong Good Governance dengan Mengembangkan Etika di
KAP. Media Akuntansi. Fdisi Oktober: 39-42.
Sugiyono. 2007. Metode Penelitian Bisnis. Bandung: CV.
Alfabeta.
Kesimpulan :
Dengan
terbuktinya pengaruh profesionalisme, etika profesi, independensi
dan motivasi kerja pada kinerja
internal auditor pada Dealer Yamaha di Kota Denpasar, maka hasil penelitian ini
diharapkan dapat memberikan masukan kepada pihak-pihak yang terkait dalam
hubungan dengan proses audit. auditor sendiri, hendaknya selalu meningkatkan
motivasi kerja dibidangnya karena akan mempengaruhi proses kinerjanya. Selain
itu, bagi peneliti selanjutnya disarankan untuk memperluas wilayah penelitian
hingga keluar kabupaten dan propinsi atau mungkin bisa dikembangkan pada
perusahaan lainnya sehingga hasil penelitian dapat digeneralisasikan.
http://alfanfzi.blogspot.co.id/2015/10/n-2302-8556-e-jurnal-akuntansi.html